You are currently viewing Mengolah Keterbatasan Siswa SLBN Cicendo Menjadi Kebanggaan

Mengolah Keterbatasan Siswa SLBN Cicendo Menjadi Kebanggaan

  • Post category:Berita

Keterbatasan tidak menghalangi anak-anak SLB untuk terus berkarya dan belajar dengan ceria. Di Sekolah Luar Biasa Negeri Cicendo, Kota Bandung misalnya, memiliki ekstrakurikuler pantomim untuk mengekspresikan minat bakat siswa.

Para siswa dari SLBN Cicendo ini pun tampil dalam kegiatan Mentas Menembus Batas di Kiara Artha Park, Kota Bandung, Rabu (1/3/2023).

Dalam acara tahunan ini suara alunan musik mulai terdengar, grup teater pantomim menunjukkan penampilan yang mengundang orang-orang untuk menonton pertunjukannya. Bimo, Nizam, Arif, Nazmi, dan Steven tampil mewakili teater pantomim SLBN Cicendo.

Tak butuh waktu lama ketika lima anak dan satu pemandu menginjakkan kakinya di atas panggung. Dengan kostum hitam-putih, mereka tampildan mengundang sanjungan dari penonton.

Puji sebagai pelatih ekstrakurikuler ini bercerita pengalamannya ketika melatih siswa tunarungu dan tunawicara. Ada banyak hal yang harus diperhatikan saat melatih siswa yang berkebutuhan khusus.

“Perlu kesabaran saat kita melatih mereka. Keterbatasan komunikasi menjadi salah satu faktor.” kata Puji kepada detikJabar.

Puji bercerita jika mereka yang tampil adalah siswa setingkat SD. Sedangkan biasanya, yang tampil adalah siswa SMP dan SMA.

“Ini regenerasi yang baru, jadi sebelumnya itu anak SMP sampai SMA, kebetulan yang saat ini tampil dari anak-anak SD.” tambahnya.

Beralih ke Eri Rusliana, staff pengajar yang menceritakan pengalamannya dari tahun 1994 hingga saat ini. Di SLB Cicendo, hal yang paling menonjol adalah pantomim dan angklung.

Pantomim SD ini menjadi paling utama karena hambatan di sana adalah tunarungu. Kemampuan gerak dan ekspresi mereka yang kemudian berusaha dimaksimalkan.

Saat Puji mengajar dan melatih, ia menggunakan metode bahasa hati selain bahasa isyarat untuk mengatasi hambatan anak-anak tersebut. Dengan penuh rasa bangga, Puji mengapresiasi keberanian mereka saat tampil dengan sukses.

Tentu acara ini sangat dinantikan bagi anak-anak karena mereka termotivasi dari kakak seniornya yang sudah beberapa kali memenangkan penghargaan hingga tingkat nasional.

Hal berkesan ketika Puji melatih grup pantomim yaitu saat melihat siswa SD dengan tampil percaya diri di panggung membuatnya sangat bangga. Karena faktor sosialiasi dan percaya diri yang sulit untuk ditumbuhkan.

Hambatan lain yang mempengaruhi faktor sosial dan percaya diri yaitu lingkungan. Sebab bukan hal mudah ketika anak disabilitas bergaul dengan nondisabilitas.

Source: Detik.com

Leave a Reply