You are currently viewing Kunci Keberhasilan Guru SLB dan Ortu Dalam Mendidik Anak Disabilitas

Kunci Keberhasilan Guru SLB dan Ortu Dalam Mendidik Anak Disabilitas

  • Post category:Berita

Siswa disabilitas merupakan anak yang memiliki keterbatasan secara fisik, intelektual, mental, atau sensorik dalam jangka waktu lama. Mendidik anak disabilitas terbilang cukup sulit karena memerlukan strategi dan pendampingan secara khusus.
Guru SLB menjadi orang yang memegang peran penting dalam mengembangkan kemampuan dan karakter anak disabilitas. Bagi guru SLB, tugas mereka tak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang selaras dengan potensi dan karakteristik peserta didiknya, tetapi juga harus mampu bertindak seperti terapis, konselor, dan social worker.

Salah satu guru di SLB Negeri Raharja Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, membagikan pengalamannya mengajar anak-anak disabilitas. Pria paruh baya bernama Wahyudin ini telah menjadi guru SLB selama 10 tahun. Awalnya dia merasa kesulitan karena awam dengan dunia disabilitas dan materi yang dipelajari di perkuliahan sangat jomplang.

Berbeda dengan guru di sekolah normal, Wahyudin merasakan keunikan tersendiri selama mengajar. Sebenarnya apa kunci keberhasilan dalam mendidik anak-anak disabilitas?

“Seiring berjalannya waktu, dengan adanya dukungan dari kepala sekolah, hampir 3 bulan saya didampingi, hingga akhirnya saya merasakan keunikan tersendiri, serta rasa senang,” ucap Wahyudin saat diwawancarai detikJabar, belum lama ini.

“Mungkin orang-orang memandang sangat berat ketika mengajar anak-anak disabilitas, karena adanya kekurangan dan keterbatasan. Sebenarnya kita perlu mengenal dulu karakter anak, memahami kebiasaan anak, keinginan anak. Alhamdulillah hingga sekarang saya bertahan hampir 10 tahun lamanya,” sambungnya.

Anak-anak disabilitas merupakan anak yang memerlukan perhatian khusus. Seorang guru yang ingin terjun ke dunia disabilitas khususnya di Pendidikan Luar Biasa (PLB), yang pertama harus dikenal dari seorang anak adalah karakter.

“Ketika kita paham karakter anak, maka kita akan bisa menyiapkan hal-hal apa saja yang cocok untuk si anak. Bukan menggiring anak sesuai dengan keinginan kita, saat seorang anak memiliki keinginan, di situlah kita dukung dan berikan arahan,” jelas Wahyudin.

Menurut Wahyudin, menggiring anak sesuai dengan keinginan kita, apalagi membanding-bandingkannya dengan anak normal tidak akan membuatnya berkembang. Inilah yang menjadi tantangan bagi guru SLB untuk menghadapi karakter anak yang bermacam-macam dan mempersiapkan pengajaran yang cocok bagi setiap anak.

Sejalan dengan itu, orangtua siswi di SLB Negeri Cicendo, Kota Bandung, turut mengatakan bahwa mendidik anak disabilitas bukanlah hal yang mudah. Namun, ketika orang tua semangat dan memberikan dukungan sepenuh hati kepada anaknya, maka dia bisa berkarya lebih dari yang normal.

Ida (38) yang akrab dipanggil Mama Nisa ini mengaku anaknya sering mendapat banyak perlakuan buruk dari masyarakat karena dia tak bisa dengar dan bicara. Kini masa-masa sulit itu telah terlewati dan Ida berhasil membimbing anaknya hingga menjadi salah satu siswi tunarungu berprestasi.

Anaknya, Nisa sangat aktif dan pandai dalam berbagai kegiatan, seperti modelling, main film, menari, taekwondo, memasak, melukis, dan main angklung. Dia kerap kali berkegiatan ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk menghadiri undangan dan memenangkan beberapa perlombaan.

“Saya selalu menyemangati ‘kamu pasti bisa, tidak boleh berkata kamu tidak bisa. Buktikan ke orang-orang yang suka mengejek kamu, kamu ada keterbatasan tapi bukan berarti kamu tidak bisa berkarya. Buktiin dengan karyamu.’ Jadi, Alhamdulillah anaknya semangat,” ujar Ida kepada detikJabar, belum lama ini.

“Kemarin tanding taekwondo, Nisa sendiri yang tunarungu dan dapat juara 2. Pernah ke Jepang untuk main angklung bareng 4 anak lainnya, diundang sama Bu Menteri untuk pembukaan dan penutupan hari anak disabilitas, ” lanjutnya.

Mama Nisa tak pernah memaksa anaknya untuk mengikuti banyak kegiatan, Nisa mengaku lebih suka belajar dan produktif dibandingkan di rumah saja. Tentunya, Ida telah melakukan perjuangan yang besar dalam membimbing Nisa, mulai dari ikut belajar bahasa isyarat, mencari guru yang menerima keterbatasan anaknya, serta memupuk rasa ikhlas, kesabaran yang ekstra dan senantiasa menguatkan sang anak.

“Jangan malu dan dikurung di rumah. Tanyakan, perhatikan putra-putri kalian, kemampuan dia maunya apa, keahlian dia maunya apa, dan semangatin. Bisa cari sanggar, yayasan, atau tempat lain yang menerima anak kita untuk berkembang. Cari terus jangan putus asa. Satu dua orang yang nggak menerima jangan langsung ‘oh yaudah nggak ada yang menerima anak saya’ terus jangan bilang ‘anak saya nggak bisa apa-apa’. Buktikan anak kita itu bisa berkarya. Anak disabilitas punya hak yang sama seperti anak normal,” pungkas Ida.

Itulah kunci keberhasilan dalam mendidik anak disabilitas. Jadi, peran orangtua juga tak kalah penting sebagai support system pertama dan utama. Semua tergantung orang tuanya, berikan dukungan untuk berjuang menggapai keinginannya dan bisa hidup selayaknya anak normal.

Source: Detik.com

Leave a Reply