You are currently viewing Keterbatasan Tidak Menghalangi Ibadah Ramadhan Penyandang Disabilitas Netra di Jateng

Keterbatasan Tidak Menghalangi Ibadah Ramadhan Penyandang Disabilitas Netra di Jateng

  • Post category:Berita

Kedatangan bulan Ramadhan selalu ditunggu kalangan umat Islam dengan meningkatkan ibadah yang memiliki berbagai keutamaan.

Umat Islam menghidupkan suasana malam bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan ampunan itu, antara lain dengan Shalat Tarawih dan tadarus atau membaca Al Quran.

Hal serupa juga dilakukan para penyandang disabilitas netra di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Penganthi Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

Dikutip Antara, Panti Penganthi merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, kini dihuni sekitar 85 orang penerima manfaat yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun luar Jawa Tengah.

Setiap malam, sehabis Shalat Tarawih mereka tadarus bersama-sama di Masjid Al Hidayah yang berada di tengah kompleks Panti Penganthi tersebut.

Tadarus di Malam Ramadhan

Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi mereka untuk meningkatkan ibadah di bulan suci Ramadhan, dengan menggunakan jari-jari tangan mereka meraba ayat-ayat Al Quran berhuruf Braille untuk tadarus.

Pembimbing baca tulis braille Panti Penganthi Sugiarti mengatakan di bulan Ramadhan ini para penerima manfaat yang beragama Islam tetap melaksanakan tarawih dilanjutkan dengan ibadah tadarus.

Tadarus dilaksanakan oleh penerima manfaat yang sudah bisa membaca Al Quran Braille maupun secara hafalan dilakukan bersama-bersama, salah satu di antara mereka ada yang memandu dan lainnya menirukan.

“Kegiatan ini diikuti semua penerima manfaat, baik yang sudah bisa membaca Al Quran Braille maupun hafalan mengikuti semua, sehingga mereka yang belum paham akan terinspirasi untuk bisa membaca Al Quran Braille,” katanya.

Harus Paham Baca Tulis Braille

Pada awalnya sebagai dasar mereka harus paham baca tulis braille dulu, setelah itu penerima manfaat baru belajar baca tulis Arab Braille.

Ada dua pembimbing bagi penerima manfaat di Panti Penganthi untuk belajar Al Quran Braille dan pembimbing harus bisa memahami bahwa kemampuan masing-masing penerima manfaat berbeda-beda.

Bagi penerima manfaat yang daya tangkapnya cepat, dalam beberapa bulan mereka sudah bisa membaca Al Quran Braille.

Semua pembelajaran dilakukan secara bertahap agar mereka bisa membaca huruf Arab Braille. Bagi yang belum paham huruf Arab Braille diajari dengan bacaan hafalan, karena tidak setiap penerima manfaat bisa membaca Arab Braille.

Meskipun demikian, hingga kini belum ada penerima manfaat di Panti Penganthi yang hafal 30 juz. Beberapa dari mereka ada yang hafal dua hingga lima juz.

Penerima Manfaat

Seorang penerima manfaat berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Mujiono (55), merasa senang mengikuti pembelajaran dan keterampilan yang diselenggarakan oleh pengelola Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Penganthi Kabupaten Temanggung.

Ia mengaku baru masuk Panti Penganthi tiga bulan lalu, namun sudah pandai membaca Al Quran Braille karena sebelumnya sudah belajar lewat sistem secara daring.

“Saya sudah belajar Al Quran Braille tiga tahun lalu, mulai dari Iqra,” kata pria yang mengalami kebutaan karena kecelakaan kerja ini.

Mujiono yang tidak bisa melihat secara total sejak tahun 2010 ini menjelaskan membaca Al Quran Braille harus meraba dengan jari dan meraba ini kadang kena kadang tidak, sehingga hal itu menyulitkan bagi mereka yang belajar. Tentu hal ini berbeda dengan orang yang bisa melihat.

Saat membaca Al Quran Braille, sebelum mengucapkan kata atau kalimat harus meraba dulu dan memerlukan waktu, karena rasa berbeda dengan visual. Jika melihat bisa langsung merespons, sementara kalau dengan cara meraba itu dari merasakan kemudian dibawa ke otak baru diucapkan, perlu waktu atau tidak bisa secepat orang yang bisa melihat.

“Sebelum masuk Panti Penganthi saya hanya tinggal di rumah, merasa sendiri dan seolah-olah kebutaan saya ini sedunia hanya saya sendiri. Ketika saya sampai di sini ternyata banyak teman yang senasib,” katanya dalam perbincangan dengan Antara.

Hal tersebut membuat Mujiono merasa bahagia, karena ternyata dia tidak sendirian. Kenyataan itu membuatnya bertambah semangat untuk belajar keterampilan memijat di panti tersebut. Apalagi udara di Temanggung sejuk sehingga membuat dia bertambah betah.

Belajar dari Teman Lain

Menurut dia selama tinggal di panti juga belajar dari teman-temannya meskipun dari segi umur dirinya paling senior.

Sebelumnya dia merasa ada kesombongan dalam dirinya, merasa sebagai orang paling pandai, ternyata setelah sampai di Panti Penganthi merasa sebagai orang yang paling bodoh, maka perlu banyak belajar lagi kepada teman-temannya, meskipun mereka lebih muda.

Baginya teman-teman di panti juga berfungsi sebagai guru. Proses belajar bukan hanya dari pembimbing, tetapi juga dari teman-teman senasib untuk menimba ilmu terkait dengan bagaimana harus berkomunikasi dan bersosialisasi.

Karena kendala penglihatan, hampir setiap hari mereka tabrakan ketika berjalan. Ada yang sampai kepalanya sakit, namun tidak pernah ada yang marah, justru malah tertawa. Itulah pembelajaran yang tidak didapatkannya di luar panti.

Penerima manfaat yang lain Ival Saputra dari Kendal menyampaikan dirinya baru belajar Al Quran Braille sekitar dua bulan, namun dia sudah hafal Al Quran 4 juz.

Sebelum belajar Al Quran Braille dirinya memang sudah hafal dengan cara mendengarkan gurunya saat membaca terus mengikutinya.

Begitu semangatnya para penyandang disabilitas netra itu bertadarus di bulan Ramadhan ini, bisa menjadi teladan bagi mereka yang memiliki indra penglihatan normal.

Source: Liputan6.com

Leave a Reply