You are currently viewing Depresi pada Penyandang Disabilitas, Kenali Gejala dan Penanganannya

Depresi pada Penyandang Disabilitas, Kenali Gejala dan Penanganannya

  • Post category:Artikel

Disabilitas dapat diartikan sebagai suatu kondisi fisik atau mental yang membatasi gerak, indra, atau aktivitas seseorang.

Seperti halnya rasa kehilangan yang signifikan, penyandang disabilitas juga memerlukan penyesuaian mental. Pasalnya, orang yang baru mengalami kondisi disabilitas dapat mengalami depresi karena belum bisa menerima kondisinya sendiri. Depresi yang dialami selanjutnya dapat memperumit disabilitasnya.

Melansir Verywell Health, Senin, 12 Februari 2024, bagi mereka yang baru saja mengalami disabilitas, depresi merupakan hal yang sangat umum terjadi. Mereka mengalami perubahan signifikan dalam kehidupannya dan berjuang menerima keadaan.

Mengakui adanya disabilitas baru tidak selalu mudah bagi banyak orang, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk sepenuhnya menerima bahwa mereka adalah penyandang disabilitas. Dan tidak dapat lagi melakukan beberapa atau banyak hal yang dulu mereka sukai. Wajar jika mereka merasa sedih atau marah karena berduka atas kehilangan kemampuan sebelumnya.

Berbeda dengan Penyandang Disabilitas Sejak Lahir

Selain dapat terjadi ketika sudah dewasa, disabilitas juga bisa terjadi sejak lahir. Disabilitas dapat terjadi karena adanya masalah selama kehamilan, misalnya masalah genetik atau masalah saat persalinan.

“Ada yang berpendapat bahwa menjadi penyandang disabilitas sejak lahir membuat segalanya lebih mudah, tapi ada pula yang berpendapat lain,” mengutip Verywell Health, Senin (12/2/2024).

Mereka yang mengalami disabilitas pada usia dini mungkin menghabiskan waktu bertahun-tahun berjuang untuk mendapatkan penerimaan dari teman-teman dan gurunya. Mereka juga mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan baru dan mengalami kesulitan dalam transisi ke masa dewasa dan ketika masuk dunia kerja.

Artinya, penyandang disabilitas sejak lahir juga bisa mengalami depresi.

Tak Semua Orang Punya Support System yang Baik

Banyak orang memiliki sistem pendukung (support system) yang luar biasa, seperti teman dan keluarga yang membantu mereka melewati masa-masa sulit.

Namun, banyak juga yang tidak memiliki sistem dukungan yang mereka perlukan, terutama jika mereka baru saja menjadi penyandang disabilitas dan hidup di dunia dengan kemampuan fisik yang baik.

Bukan hal yang aneh jika sesekali bertanya “mengapa saya?” momen ketika menghadapi kesulitan dalam hidup, terutama ketika disabilitas tampaknya menjadi penyebab kesulitan tersebut.

Namun, ketika seseorang merasa seolah-olah dunia selalu menentangnya, dia mungkin mengalami depresi klinis, bukan sekadar kesedihan.

Gejala Depresi Klinis

Institut Kesehatan Mental Nasional melaporkan bahwa jika setidaknya lima dari gejala berikut dialami hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama setidaknya dua minggu, mereka mungkin menderita depresi klinis:

  • Suasana hati sedih, cemas, atau “kosong” yang terus-menerus
  • Perasaan putus asa, atau pesimisme
  • Sifat lekas marah
  • Perasaan bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
  • Hilangnya minat atau kesenangan terhadap hobi dan aktivitas
  • Penurunan energi atau kelelahan
  • Bergerak atau berbicara lebih lambat
  • Merasa gelisah atau kesulitan duduk diam
  • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan
  • Kesulitan tidur, terbangun di pagi hari, atau tidur berlebihan
  • Perubahan nafsu makan dan/atau berat badan
  • Pikiran tentang kematian atau bunuh diri, atau upaya bunuh diri
  • Sakit atau nyeri, sakit kepala, kram, atau gangguan pencernaan tanpa sebab fisik yang jelas dan/atau tidak mereda meski sudah diobati.

Penanganan Depresi pada Penyandang Disabilitas

Tak jarang, penyandang disabilitas mendapatkan perawatan atas disabilitasnya, tapi kebutuhan emosional atau spiritualnya tidak terpenuhi.

Dokter biasanya bukan terapis berlisensi, sehingga dapat tidak menyadari bahwa pasiennya sedang mengalami masalah emosional.

Oleh karena itu, pasien yang mampu perlu menjadi advokat bagi dirinya sendiri. Ini berarti angkat bicara dan memberi tahu dokter atau spesialis layanan primer bahwa sedang merasa sedih atau tertekan dan memerlukan seseorang untuk diajak bicara.

Pendamping atau pengasuh juga perlu menyadari kebutuhan emosional penyandang disabilitas dan mewaspadai tanda-tanda peringatan depresi. Seorang pengasuh dapat menjadi garis pertahanan pertama dalam membantu seseorang yang diam-diam menderita depresi.

Merasa sedih atau bahkan tertekan selama beberapa hari atas kejadian dalam hidup adalah hal yang wajar. Namun, kesedihan atau depresi yang berlangsung lebih dari beberapa hari memerlukan bantuan dari dokter perawatan primer atau konselor bersertifikat.

Source: Liputan6.com

Leave a Reply