You are currently viewing Cerita Penyandang Disabilitas Manfaatkan Ekonomi Digital, Berkolaborasi Jadi Pekerja Kreatif

Cerita Penyandang Disabilitas Manfaatkan Ekonomi Digital, Berkolaborasi Jadi Pekerja Kreatif

  • Post category:Berita

Wiviano Rizky Tantowi (24), penyandang disabilitas fisik asal Kelurahan Kebosanri, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, tampak menggunakan kursi roda. Ia mengamati kameramen yang sedang mengambil video untuk pembuatan sebuah film.

Pria yang akrab disapa Vian itu sedang membuat film pendek. Dia mengangkat kisah hidup penyandang disabilitas di Jember.

Vian berkolaborasi dengan 10 penyandang disabilitas untuk membuat film tersebut. Rencananya, karya mereka ditayangkan saat peringatan Hari Penyandang Disabilitas Nasional pada 3 Desember.

“Saya mengajak 10 teman-teman penyandang disabilitas, mulai dari disabilitas rungu, netra, fisik dan lainnya,” kata Vian kepada Kompas.com, Kamis (20/10/2022).

Tujuan Vian mengajak para penyandang disabilitas, sederhana. Ia ingin membangkitkan semangat rekannya untuk berkarya di bidang digital.

Vian yakin, mereka memiliki potensi yang sama dengan warga biasa. Para penyandang disabilitas, kata dia, bisa menjadi pemeran film, kameramen, mengedit video, hingga menyangkan karya di berbagai platform.

“Saya ingin meyakinkan bahwa mereka bisa dan setara dengan non difabel, terutama dalam berkreasi di dunia digital,” ucap dia.

Penyandang disabilitas, tambahnya, memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang. Ia pun berharap, para penyendang disabilitas bisa mandiri.

Cerita awal terjun ke industri kreatif

Aktivitas Vian memproduksi film dimulai pada 2018. Ketika itu, ia diminta temannya membantu menyelesaikan tugas kuliah di Universitas Jember.

Vian yang memiliki ketertarikan menulis naskah itu membantu dalam menyelesaikan tugas kuliah itu.

“Ada teman minta dibikinkan cerita, akhirnya aku bantuin,” ucap dia.

Setelah naskah selesai, Vian diminta menjadi produser film tersebut. Dari sana, ia mulai menggeluti industri kreatif dan ekonomi digital.

Film yang sudah digarapnya lalu diunggah ke media sosial YouTube dan dilihat berbagai kalangan masyarakat.

“Dari sana, masuk ke YouTube untuk pertama kali,” ujar dia.

Setelah itu, Vian merasa menemukan renjana dalam memproduksi film. Pada 2019, ia membuat film pendek tentang anak muda yang menjadi pelaku kejahatan demi menghidupi keluarga.

Film itu akhirnya ditayangkan dalam sebuah festival dan menjadi satu dari 10 karya yang paling banyak ditonton dalam event itu.

“Saat itu ditayangkan di aplikasi Vidio, karena syaratnya harus diunggah di sana,” tutur dia.  

Setelah itu, Vian membuat rumah produksi dengan memproduksi film pendek dan klip video. Dia berkolaborasi dengan para penyandang disabilitas dan teman-teman non disabilitas.

Saat pandemi Covid-19, perusahaannya sempat mendapat tantangan karena pembatasan kegiatan masyarakat.

“Hanya terima job bikin video clip, cuma garap dua kali. Seperti video pembacaan puisi,” tambah dia.

Kini, ia terus memproduksi film dan ditayangkan melalui akun media sosial yang dibuatnya, terutama di YouTube dan Instagram. Seperti proses pembuatan kisah hidup penyandang disabilitas.

“Film tentang kisah penyandang disabilitas ini putar perdana untuk teman-teman disabilitas nanti,” ucap dia.

Bahkan dirinya akan roadshow ke daerah Tapalkuda untuk memperkenalkan filmnya, setelah itu akan ditayangkan di channel YouTube.

Wadah penyandang disabilitas jadi creativepreneur

Vian mengaku ada peluang besar dalam dunia digital bagi para penyandang disabilitas untuk berkreasi. Terutama dalam membuat konten yang bermanfaat dan bisa menghasikan.

Ia menilai peluang ekonomi digital terbuka lebar. Namun, tak semua penyandang disabilitas memiliki fasilitas yang sama untuk bergerak di bidang itu, salah satu penyebabnya karena lingkungan yang kurang mendukung.

Seperti lingkungan sosial yang tidak memadai, akses yang kurang merata, keterampilan yang masih terbatas, serta rasa percaya diri yang belum tumbuh.

Sehingga, kata dia, pemerintah perlu terus mendorong dan merangkul para penyandang disabilitas agar bisa bergerak di bidang digital. Seperti mengadakan workshop, pelatihan, dan lainnya.

“Seperti kegiatan literasi digital oleh Kominfo beberapa waktu lalu, teman-teman penyandang disabilitas sangat antusias,” ungkap dia.

Teman-teman penyandang disabilitas, kata dia, ingin mendapat penghasilan dari internet. Mereka pun membuat konten video untuk diunggah di YouTube hingga TikTok.

Dia menilai kreativitas di bidang digital akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Para penyandang disabilitas dinilai perlu mengambil peran di dalamnya.

Di sekolah, literasi digital terus dikenalkan kepada para pelajar penyandang disabilitas. Seperti memperkenalkan internet, sosial media dan lainnya. Bahkan, pembelajaran bagi siswa penyandang disabilitas sudah menggunakan teknologi.

“Kami juga harus mengikuti perkembangan zaman, memperkenalkan siswa kami pada dunia digital,” kata Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Patrang, Umi Salma.

Umi mengatakan, proses pembelajaran bagi pelajar menyesuaikan kebutuhan zaman, seperti pelajaran teknologi hingga desain grafis bagi disabilitas netra, rungu, dan intelektual.

Harapannya, agar mereka tidak terjerumus pada sisi jelek internet, seperti menjadi korban penipuan online, pelecehan, hoaks, hingga aksi bullying.

“Siswa kami juga sudah kenal dengan YouTube hingga Facebook,” papar dia.

Selain itu, agar siswa bisa memiliki pemahaman yang baik tentang ekonomi digital dan memanfaatkannya. Apalagi, penyandang disabilitas tak bisa selamanya bergantung kepada orangtua.

Bahkan, kata dia, ada beberapa pelajar yang juga memiliki akun YouTube dan mengisinya dengan konten sederhana, seperti rutinitas sehari-hari.

“Ada juga yang bisa membuat blogspot, Instagram, Facebook dan mengupload sendiri kegiatan kegiatan mereka,” tambah Umi.

Umi menilai, literasi digital untuk penyandang disabilitas sangat penting, apalagi di era digital. Ia menambahkan, sekolah tak hanya mengajarkan akademik, tetapi kemandirian, cara bersosialisasi, dan berkomunikasi.

“Apalagi sekarang komunikasi sudah secara digital, jadi kami berharap anak-anak kami punya kemampuan membuat produk hingga memasarkan melalui digital,” terang dia.

Source: Kompas.com

Leave a Reply