You are currently viewing Cara Penyandang Disabilitas Daksa Kuliah di UB, Merantau Sendirian dari Bali

Cara Penyandang Disabilitas Daksa Kuliah di UB, Merantau Sendirian dari Bali

  • Post category:Berita

Penyandang disabilitas daksa tak menyurutkan semangat Elo Kusuma Alfred Mandeville untuk merantau lintas provinsi dan mengenyam pendidikan tinggi. Sosok yang disapa Elo ini baru saja lulus dari jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB).
Elo lulus dengan IPK 3,47 dan telah diterima bekerja di dua tempat yaitu Australia-Indonesia Disability Research (AIDRAN) yang berpusat di Australia dan sebuah industri kreatif yang berlokasi di Malang sebagai social media officer dan content making.

Kepada detikEdu, Elo menceritakan pengalamannya selama kuliah di UB dan merantau jauh-jauh dari Denpasar sendirian. Rupanya, dahulu keputusannya untuk merantau ini langsung disetujui orang tua.

Merantau dari Denpasar

Laki-laki berusia 24 tahun ini mengaku selama kuliah tinggal di rusunawa UB. Dengan tinggal di sana, menurutnya sangat membantu dalam beraktivitas sehari-hari di lingkungan kampus. Apabila ada urusan di luar kampus, maka dia akan memesan ojek online.

“Berhubung saya domisili Denpasar, orang tua dan keluarga berada di Denpasar. Di Malang saya merantau sendirian dan selama berkuliah tinggal di asrama Rusunawa UB,” ungkapnya (24/1/2024).

Elo mengaku orang tuanya memberikan kebebasan dalam mengembangkan karier. Meski demikian, dia tidak merasa terlalu kesulitan selama merantau di Malang.

“Mungkin saat bepergian sendirian harus benar-benar mandiri, tapi tidak begitu kesulitan,” ujarnya.

Dukungan dari Kampus

Elo menyebutkan sejumlah fasilitas pendukung dari universitas selama dia kuliah.

“Di Brawijaya terdapat unit layanan disabilitas yang bernama Pusat Layanan Disabilitas atau biasa dikenal dengan PLD UB. Di PLD sendiri terdapat berbagai macam pelayanan, salah satunya adalah pendampingan,” jelasnya.

Dia menerangkan, pelayanan pendampingan adalah mahasiswa nondisabilitas membantu dan menemani mahasiswa disabilitas jika membutuhkan pendampingan. Kegiatan pendampingan itu juga ada banyak bentuknya, seperti menerjemahkan apa yang diterangkan oleh dosen untuk teman-teman tuli atau membantu menuliskan dan mendeskripsikan gambar dari mata kuliah yang dipaparkan oleh dosen untuk teman-teman tunanetra.

“Sementara untuk saya sendiri menggunakan pelayanan pendampingan untuk membantu membawa barang-barang yang banyak dan berat atau membantu saat pengerjaan prakarya. Dan ini hanya saat semester 1 dan 2,” bebernya.

Elo bercerita, saat awal masuk kuliah di semester 1 dan 2, ada mata kuliah yang mengharuskan untuk membuat prakarya baik itu melukis, menggunting, dan sejenisnya. Ketika itu Elo merasa kesulitan, sehingga harus menggunakan pelayanan pendampingan yang disediakan PLD UB.

Dukungan dari Teman-Teman

Selain memperoleh fasilitas dari kampus, Elo menyebut memperoleh dukungan dari teman-temannya selama di kelas maupun di luar kelas.

“Apabila tidak ada pendamping, teman-teman kelas dengan senang hati membantu saya ataupun bergaul dalam kegiatan sehari-hari,” kata dia.

Selama mengerjakan tugas kuliah dan sebagainya, Elo hanya menggunakan dua kakinya saja. Hanya saja biasanya ketika mengoperasikan laptop atau menulis, harus pada bidang datar yang tingginya setara atau biasanya memakai kursi tambahan untuk meletakkan laptop di atas kursi tersebut.

“Untuk mengoperasikan komputer, saya meletakkan keyboard dan mouse di lantai,” ucapnya.

Buat Dokumenter untuk Skripsi

Elo membuat sebuah film dokumenter untuk skripsinya. Dia membuat film bertajuk “Life Without Limits” yang bercerita tentang pengalaman teman-teman disabilitas ketika membuat produk wirausaha dan mempromosikannya di Denpasar.

Menurutnya kesulitan yang dialami saat membuat skripsi adalah menunggu bantuan dari teman-teman yang terlibat.

“Kesulitan yang saya alami adalah menunggu bantuan dari teman-teman yang terlibat dalam pengerjaan skripsi. Seperti untuk memegang kamera, dan transportasi,” ujarnya.

Mampu menyelesaikan kuliah dengan membanggakan, Elo mengaku sangat senang bisa kuliah di UB.

“Sangat senang dapat melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia karena tidak pernah menyangka dapat menyelesaikan studi di Brawijaya,” ucapnya.

“Sangat senang bisa menambah wawasan, membangun relasi, dan membuka jendela baru melalui mengikuti-mengikuti kegiatan selama berkuliah di UB,” lanjut Elo.

Source: Detik.com

Leave a Reply