You are currently viewing 3 Prinsip Dalam Membangun Teknologi Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

3 Prinsip Dalam Membangun Teknologi Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

  • Post category:Artikel

Teknologi memiliki peran besar dalam membantu kehidupan para penyandang disabilitas, termasuk individu neurodivergent.

Individu neurodivergent adalah orang dengan perbedaan neurologis yang memengaruhi pembelajaran, pikiran, dan perilaku.

“Individu-individu tersebut mungkin telah menyaksikan kemajuan teknologi, tetapi apakah mereka benar-benar mendapat manfaat dari teknologi?” kata salah satu individu dengan neurodivergent Juliana Cen dalam Pekan Kreatif untuk Penyandang Disabilitas, ditulis Selasa (12/12/2023).

Senior Partner Development Manager di Microsoft Indonesia itu mengatakan bahwa teknologi sering dianggap sebagai pendukung terciptanya peluang baru. Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Juliana, teknologi harus bersifat inklusif.

Kemajuan teknologi perlu didorong oleh prinsip etika sekaligus menempatkan manusia di kursi terdepan. Untuk menciptakan teknologi yang inklusif, mudah diakses, dan mudah digunakan pengguna, terdapat tiga prinsip penting harus dipegang teguh yakni:

  • Mengakui adanya pengecualian (exclusion). Sadari bahwa masyarakat memiliki bias dan bahwa disabilitas terbentuk ketika ada interaksi yang tidak sesuai antara seseorang dan lingkungannya.

“Sebagai designers, merupakan tanggung jawab kita untuk mengetahui apakah desain kita mengesampingkan kelompok tertentu, sehingga kita dapat memitigasinya,” jelas ibu dua anak itu.

  • Belajar dari keberagaman. Desain inklusif berarti menempatkan semua orang sebagai pusat dari proses pengembangan teknologi sejak tahap paling awal.

“Libatkanlah penyandang disabilitas untuk mendapatkan pandangan fresh dan beragam di setiap langkah pengembangan teknologi.”

Ciptakan Kemudahan bagi Semua Orang

Prinsip ketiga dalam membangun teknologi inklusif adalah menciptakan kemudahan bagi semua orang.

Misalnya, pengaturan layar kontras tinggi pada awalnya dibuat untuk membantu individu-individu dengan gangguan penglihatan. Saat ini, banyak orang mendapatkan manfaat dari pengaturan kontras tinggi saat menggunakan perangkat mereka di bawah sinar matahari yang cerah.

“Ini hanyalah satu contoh dari bagaimana desain untuk satu kondisi juga dapat bermanfaat untuk individu lain dalam situasi serupa,” kata Juliana.

Teknologi yang Baik Bisa Bantu Penyandang Disabilitas dalam Berbagai Hal

Lebih lanjut, Juliana menerangkan, teknologi memiliki potensi untuk membantu individu neurodivergent dan penyandang disabilitas secara luas dalam berbagai hal.

Seperti mengasah keahlian khusus, meningkatkan kemandirian, dan mengakses peluang yang sebelumnya bisa jadi tidak dapat dijangkau.

“Aksesibilitas mendorong inklusi dengan memanfaatkan inovasi digital dan memanfaatkan data yang berharga, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih informatif dan berdampak positif pada kehidupan,” ujar Data Innovation Lead, UN Global Pulse Asia Pacific, Faizal Thamrin dalam kesempatan yang sama.

Dia menambahkan, teknologi juga dapat memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkontribusi pada masyarakat dan ekonomi, serta menunjukkan bakat dan keterampilan mereka.

“Hidup kita sangat terkait erat dengan teknologi yang berkembang secara pesat. Jadi, jika kita ingin memastikan tidak ada siapapun yang tertinggal, kita harus mampu memenuhi berbagai kebutuhan agar dapat menciptakan lingkungan di mana orang dengan berbagai kemampuan bisa diterima dengan baik,” imbuh Juliana.

“Bayangkan betapa membingungkan dan menakutkannya untuk hidup di dunia yang dirancang tanpa memikirkan kita (penyandang disabilitas),” tambah Juliana.

Upaya Mengedepankan Prinsip Inklusif

Pihak Juliana pun berupaya mengedepankan prinsip inklusif dalam segala aspek, mendorong empati dan merangkul untuk memberdayakan setiap individu serta organisasi di dunia untuk mencapai lingkungan ramah disabilitas.

Upaya ini diwujudkan dengan:

  • Menerapkan desain inklusif di seluruh teknologi dan membagikan Metodologi Desain Inklusif ke publik. Tujuannya, membantu orang-orang memahami bagaimana mereka dapat mengintegrasikan desain inklusif ke dalam pekerjaan mereka.
  • Bermitra dengan organisasi seperti Komisi Nasional Disabilitas, Difalink untuk memperluas jangkauan Microsoft Enabler, sebuah inisiatif yang mempertemukan organisasi nirlaba, mitra pemberi kerja, dan penyandang disabilitas di Asia Pasifik. Tujuannya, menciptakan lingkungan kerja yang inklusif di mana setiap orang dapat menunjukkan potensi mereka di tempat kerja.
  • Memberdayakan penyandang disabilitas untuk memanfaatkan kekuatan AI dan menyelesaikan permasalahan mendesak dunia.

Source: Liputan6.com

Leave a Reply